Header Ads

Greater Israel dan Pan Arabisme: Perebutan Pengaruh Timur Tengah Baru

Dinamika geopolitik Timur Tengah kembali memasuki babak baru seiring meningkatnya konflik antara Israel yang didukung Amerika Serikat melawan Iran. Di tengah ketegangan tersebut, muncul kembali perdebatan lama mengenai apakah kawasan ini sedang menjadi ajang perebutan proyek-proyek geopolitik besar.

Sejarah mencatat bahwa berdirinya Israel tidak terlepas dari dukungan Britania Raya melalui Balfour Declaration. Dalam konteks itu, Israel kerap dianggap sebagai hasil dari patronase kekuatan Barat.

Namun dalam perkembangan modern, hubungan Israel dengan Amerika Serikat telah berubah menjadi aliansi strategis yang jauh lebih kompleks. Terutama pada era Donald Trump, dukungan politik dan militer terhadap Israel mencapai tingkat yang sangat tinggi.

Kebijakan seperti pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan dukungan terhadap klaim di Dataran Tinggi Golan memperkuat posisi Israel secara regional. Hal ini memunculkan persepsi bahwa Israel kembali mendapatkan momentum untuk memperluas pengaruhnya.

Istilah “Greater Israel” kemudian kembali mencuat dalam berbagai diskursus. Meskipun tidak menjadi kebijakan resmi negara, konsep ini sering digunakan untuk menggambarkan kekhawatiran akan ekspansi geopolitik Israel, khususnya usai genosida terhadap warga Palestina di Gaza oleh Tel Aviv yang dibiarkan begitu saja oleh PBB.

Di sisi lain, Iran mengembangkan pendekatan yang berbeda dalam memperluas pengaruhnya. Konsep Greater Iran lebih berakar pada sejarah dan budaya, sebagaimana dijelaskan oleh Richard Nelson Frye.

Menurut Frye, wilayah Iran historis mencakup area luas dari Kaukasus hingga Asia Tengah. Pandangan ini diperkuat oleh Richard Foltz yang menekankan bahwa pengaruh Iran lebih bersifat kultural daripada politik tunggal.

Namun dalam praktik modern, Iran membangun jaringan pengaruh yang nyata melalui aliansi dan kelompok non-negara. Di Lebanon, pengaruh itu terlihat melalui Hezbollah, sementara di negara lain seperti Irak dan Suriah, pengaruh serupa juga berkembang.

Perbedaan pendekatan ini menciptakan dua model ekspansi yang kontras. Israel cenderung mengandalkan kekuatan negara dan dukungan Barat, sementara Iran memanfaatkan jaringan ideologis dan milisi regional.

Di tengah dua kutub tersebut, negara-negara Arab berada dalam posisi yang semakin sulit. Mereka harus menyeimbangkan hubungan dengan kedua pihak tanpa terseret ke dalam konflik terbuka.

Kondisi ini diperparah oleh melemahnya Pan-Arabism yang sebelumnya menjadi kekuatan pemersatu dunia Arab. Sejak era Gamal Abdel Nasser, ide ini mengalami kemunduran signifikan.

Fragmentasi kepentingan nasional membuat negara Arab tidak lagi memiliki posisi kolektif yang kuat. Akibatnya, mereka lebih sering bertindak secara individual dalam menghadapi tekanan eksternal.

Di sisi lain, muncul kekuatan baru melalui konsep Neo-Ottomanism yang diusung oleh Recep Tayyip Erdoğan. Turki berupaya memperluas pengaruhnya dengan mengacu pada warisan Kekaisaran Ottoman.

Pendekatan Turki berbeda dari Iran maupun Israel. Ankara menggabungkan kekuatan militer terbatas dengan diplomasi, ekonomi, dan pengaruh budaya untuk memperluas jangkauannya.

Dalam konflik antara Israel dan Iran, posisi Turki cenderung fleksibel. Di satu sisi, Turki sering mengkritik Israel, namun di sisi lain juga bersaing dengan Iran di berbagai kawasan seperti Suriah dan Irak.

Posisi ini menjadikan Turki sebagai aktor penyeimbang yang oportunistik. Tujuan utamanya bukan memenangkan salah satu pihak, melainkan memperkuat pengaruhnya sendiri di kawasan.

Dengan demikian, Timur Tengah saat ini tidak hanya menjadi arena konflik dua pihak, tetapi juga medan persaingan multi-kutub. Israel, Iran, dan Turki masing-masing membawa agenda geopolitik yang berbeda.

Sementara itu, dunia Arab justru berada dalam posisi defensif. Tanpa kekuatan pemersatu yang kuat, mereka lebih sering menjadi objek daripada subjek dalam dinamika regional.

Situasi ini menciptakan persepsi bahwa negara Arab terjepit di antara proyek-proyek besar seperti “Greater Israel” dan “Greater Iran”. Meski istilah tersebut tidak selalu formal, dampaknya terasa nyata dalam kebijakan regional.

Namun demikian, realitasnya lebih kompleks dari sekadar dua kutub. Kehadiran Turki dengan Neo-Ottomanisme menambah dimensi baru dalam persaingan tersebut.

Pada akhirnya, konflik yang berlangsung saat ini mencerminkan perubahan besar dalam struktur kekuasaan Timur Tengah. Kawasan ini tidak lagi didominasi satu ideologi atau kekuatan tunggal.

Ke depan, arah perkembangan Timur Tengah akan sangat ditentukan oleh bagaimana aktor-aktor ini berinteraksi. Apakah akan terjadi keseimbangan baru atau justru eskalasi yang lebih luas masih menjadi pertanyaan terbuka.

No comments

Powered by Blogger.